The Spirit Carries On..

If I die tomorrow
I 'd be alright
Because I believe
That after we 're gone
The spirit carries on..

Kamis, 09 Oktober 2008

jadwalKereta

Suatu pagi di stasiun kereta api, ada seorang nenek yang bertanya pada petugas loket.

Nenek : Nak, keretanya sampai jam berapa??

Petugas Loket : Jam 1 dari Surabaya, jam 2 Bandung, jam 3 Semarang, jam 4 Yogya. Emangnya nenek mau pergi mana??

Nenek : Enggak, nenek cuma mau melintas saja.

Senin, 06 Oktober 2008

Moona’s or Gery’s Diary..?

cerita ini adalah rekaan belaka, yang dikompilasi dari berbagai sumber


“Moona Putri Ardella?”. Terdengar tawa menylimuti sekeliling kelas. Berpasang-pasang mata melirik ke sang pemilik nama yang duduk di bagian depan kelas. Kekehan mereka meledak menjadi tawa lebar ketika punggung membengkok, leher meliuk ke bawah, membuat rambut longsor menutupi wajah. Ia terlihat seperti sosok hantu perempuan di film-film horor dengan rambut panjang menyelubungi wajah yang pucat pasi. Tapi bedanya, wajah ini begitu hidup dengan kulitnya yang merah. Jika tak ada sahutan membalas, biasanya sang guru akan langsung mengetahui kehadiran sang pemilik nama dari suara tawa yang memenuhi ruang kelas setiap kali namanya disebutkan. Pasti dia hadir, guru itu menyimpulkan dengan mata tetap tertambat ke daftar hadir, karena mereka akan tertawa geli melihat pipinya yang merah seperti bokong yang habis disabet memakai sendok kayu.

Hari ini berjalan seperti biasa, seperti rekaman film yang terus-menerus diulang. Itulah yang dialaminya setiap pagi di sekolah. Itulah Moona. Moona Putri Ardella.

———

Moona merasa gundah. Tapi ia tidak tahu kenapa. Tidak ada yang aneh dalam kegiatannya sebelum berangkat sekolah yang biasa dilakukan di pagi hari ini. Tapi ia bisa merasakannya. Seperti sebuah firasat buruk yang tak bisa ditepiskan dari kepala. Moona berjalan menuju kalender yang tergantung di dinding kelas. Sreeek... disobeknya lembaran kertas yang menunjukkan angka tanggal bulan ini. Tanggal 14 Februari, Hari Valentine. Kesegaran yang dirasakannya setelah mandi pagi secara ajaib seolah menguap dari tubuh mungilnya. Yang ada tinggal kelesuan. Keseganan untuk menjalani hari.

Pikirannya memang lagi-lagi dihantui oleh sesuatu yang semestinya telah dicampakkan. Hari Valentine menjadi penyulutnya. Menonton tayangan iklan atau melihat papan billboard bertemakan Valentine, atau pasangan bergandengan tangan di jalan membuatnya muak. Seandainya ia dapat menemukan jalan ke sekolah dengan mata tertutup. Tapi sayangnya, pada saat ini dirinya berada di satu tempat yang suasananya tidak jauh berbeda dari pusat keramaian mal, SMU Nusa Bangsa. Memasuki kelas, pemandangan satu bangku yang diisi dua penumpang merupakan hal yang lazim. Satu meja akan kehilangan salah satu penghuninya. Termasuk anak di meja sebelah yang sekarang melekatkan pipinya yang sehalus dove ke pipi cowoknya yang penampung minyak. Atau si Leni yang jadi sibuk menciptakan nama baru dari gabungan kedua nama mereka di secarik kertas, dengan pulpen merah, dengan simbol hati menggantikan titik di atas huruf I... Lenita: Leni dan Ita. Ihiiiih... (sebel).

Sebenarnya yang paling dibencinya dari hari Valentine ini adalah asosiasi warnanya. Merah, warna yang dipoles sangat kental sepanjang permukaan simbol universal cinta. Begitu memuakkan. Mengapa bentuk manifestasi kasih sayang harus diliputi warna merah? Bukankah merah menandakan kemarahan? Kebencian? Rasa sakit?

Pernah suatu kali Moona terjatuh dari sepeda dan lututnya terluka. Saat ia reflek memejamkan mata, yang dapat dilihat hanyalah bayangan berwarna merah membara yang menyertai rasa sakit yang bermuara dari lutut. Dan ketika membuka mata, ia begitu ngeri melihat warna darah yang mengalir dari luka itu. Merah.

Cukup jelas. Merah bukanlah warna yang bersahabat. “Moona lagi mikirin apa sih? Kok muka sampe bisa kelap-kelip gitu? Mikirin natal ya? Masih jauh lagi, mbak....”

“Walah... sekarang udah kayak mau meleleh gitu mukanya. Serem korslet deh gue....” Irina dan Yanti ngeloyor pergi, meninggalkan lengkingan suara tawa mereka yang sangat menyebalkan.

Moona menghela napas, lalu mencoba menghibur diri dengan memaksakan diri untuk tertawa. Tapi ia malah berasa aneh. Wajahnya terasa semakin panas. Wajahnya memang seperti itu semenjak kecil. Gampang tersipu. Digodain sedikit merah, ditegur sedikit merah, bahkan kalau ia berbohong kecil saja, wajahnya pasti langsung merah. Kalau hidung Pinokio memanjang, maka pipi seorang Moona akan memerah jika ia berbohong. Satu-satunya yang diandalkan untuk menutupinya adalah rambut. Rambutnya sengaja digerai panjang sampai punggung supaya sewaktu-waktu bisa ia gunakan untuk menutup wajahnya ketika ia menunduk—gerakan kepala serta leher yang otomatis dilakukan apabila wajah terasa panas.

Moona memang telah mengidap kondisi seperti ini sejak dilahirkan. Tapi intensitas warnanya tidak seperti sekarang. Dulu masih terlihat samar, sampai perlahan di pipinya akan terlihat bentuk eliptikal berwarna merah. Mirip seperti pipi baby doll, kata Mamanya. Akhirnya ketika berumur sekitar tujuh tahun ia dibawa ke seorang dokter neurologis.

Moona ingat sekali betapa takutnya ia ketika dibawa ke ruangan putih yang berbau aneh itu. Aroma sterilnya membuat ia mual. Seingatnya, ia didudukkan di sisi tempat tidur lalu si dokter dengan matanya yang tajam menyusuri permukaan kulit wajahnya. Dan rasa hangat itu muncul mengikuti arah pandangnya. Bahkan sampai ke leher pun terasa. Sampai akhirnya dokter berhenti memeriksa lalu mengalihkan perhatiannya, wajah itu terasa adem lagi. Moona merasa begitu lega.

Dokter Adam akhirnya menjelaskan hasil pemeriksaannya (dan kata-katanya entah bagaimana selalu diingat oleh Moona), “Kesipuan terjadi ketika pembuluh darah yang berada di wajah dan leher membesar sehingga mereka akan memompa darah lebih banyak dan akhirnya terjadilah fenomena yang kita sebut tersipu. Secara umum mereka disebabkan oleh dua hal: malu karena sadar akan kesalahan atau karena menjadi pusat perhatian publik, baik dalam konteks positif maupun negatif. Sementara Moona sendiri mengidap kondisi tersipu yang lebih ekstrim, suatu sindrom yang bernama Idiopathic Craniofacial Erythema, yaitu jenis kesipuan yang sangat sensitif, sehingga sedikit provokasi saja, baik dari internal maupun eksternal, akan mengakibatkan wajahnya menjadi merah.”

Si dokter bilang kondisi ini bisa disembuhkan. Caranya adalah dengan mengoperasi pembuluh simpatetik yang menyalurkan darah ke wajah. Tapi tentunya, biaya operasi yang tergolong baru ini akan memakan biaya yang sangat mahal. Mama dan Papanya hanya bisa saling berpandangan. Moona tidak bisa menebak apa yang mereka pikirkan dan ia juga tidak mau membayangkan. Tapi yang pasti mereka akhirnya memutuskan tidak akan melakukan operasi tersebut.

Yang terakhir diingatnya dari akhir sesi pemeriksaan itu adalah Mamanya membalikkan badannya, lalu ia memandangi wajah Moona. Dia tersenyum. Dan rasa hangat di pipi perlahan terasa berkurang. Mama berkata, “Cantik ya anak kita.” Moona tersenyum. Senang karena dibilang cantik.

Pada saat itu Moona bisa merasakan kehangatan rasa sayang Mamanya yang diulurkan tanpa syarat. Moona merasa spesial di mata Mamanya. Tapi, sayangnya, untuk seterusnya Moona tidak pernah merasa seperti itu. Di mata orang lain Moona selalu merasa tidak nyaman. Ia akan selalu merasa berbeda dari yang lainnya. Karena mereka akan terus mengingatkan setiap kali wajahnya menjadi merah. Akan kesipuan ini.

News..

Loading...