Senin, 2009 Januari 12
Kamis, 2008 Desember 11
myLifestyle
Lifestyle pelajar yang baik (versi w), urutannya berdasarkan prioritas yang paling tinggi:
5. Makan, MINIMAL tiga kali sehari
Gak penting jam berapa2, yang jelas penuhi kebutuhan jasmani yang satu ini dengan aturan tersebut. Sebenarnya kalo lebih dari tiga lebih bagus tapi inisialisasinya yah sebanyak itu, karena makin banyak makin baik (hehe pertimbangan melihat isi kantong ;D).
4. Tidur, MINIMAL 4 jam sehari
Alangkah baiknya kalo hal yang satu ini dilaksanakan memang pas jam kita butuh istirahat, jam 3 pagi misalnya (weeeek ngapain emang tidur sampe jam segitu). Yah sehari kita diberi sekian puluh jam sayang ajah kalo banyak waktu dipakai buat “gituan”, kan sumberdaya utama dari hidup kita adalah waktu, setidaknya lakukanlah hal bermanfaat lain maen, nonton, blajar (mmmh), pcaran, gossip, bikin tugas, en everything apa kek yang penting jangan tidur mulu, bisa cepat mati.
3. Belajar, MAKSIMAL tiga jam sehari
Nah kalo yang dua sebelumnya itu syarat mutlak ya buat manusia normal, yang berikut ini yah kalo perlu ajah dan karena kebetulan gw adalah manusia yang diutus menjadi pelajar untuk sementara waktu ini agaknya emang perlu belajar c. Blajar juga jangan terlalu lama *nunjuk ke atas* bisa gila nanti, bahaya kan! Cakep2 koq kga waras, intinya pemahaman konsep yang baik menghasilkan aplikasi yang bermutu. Kebanyakan dari pelajar (include: mahasiswa.h) menghabiskan waktu belajarnya dengan memahami contoh bukan konsep, alhasil sepuluh atau dua puluh tahun ke depan (kelamaan kalee..) saat dibutuhkan lagi konsep yang dipelajari dulu malah nihil, payah emang.
Orang pandai mempelajari sesuatu untuk membuat sesuatu yang lebih lagi (entah baik ato buruk)
2. Main, SEPUASNYA
Ok hati-hati dengan yang satu ini, kreativitas dan kepintaran manusia (bahkan makhluk hidup laen) berkembang paling pesat melalui hal ini, so jangan tanggung-tanggung maenlah sepuasnya. Apa ajah bisa koq kita “main”, game, olahraga, ato apalah tergantung hobi dan minat kita ajah. Bahkan kalo ada yang suka maen ama pelajaran sekolah or kuliah why not (lebay amat, yang jelas gw kgak). Sedikit saran: “maen game” tu seru, ngasah kreativitas, de el el (nb:berkutat di genre strategy offline maupun online, *sok mode on* ;p). Jangan sampai belajar mengganggu waktu bermainmu.
1. Pergaulan, SEBEBASNYA
Penting banget, di jaman yang kejam seperti sekarang ini (halah berlebihan) perlu kita kembangkan seluasnya pergaulan kita. Kalo gw c yang penting jangan jadi benalu ke gw its ok *make friends with me :D*. Sebenarnya banyak cara yah kita bergaul asalkan kita tu menyenangkan buat orang lain dan poin tadi “not access for b3n4Lu”, di dunia maya ajah banyak tu social networking. Kalo mau lebih asik lagi (ekh gak tau juga deng) make friendship gtu ma sapa kek yang kita bisa percayai ato pcaran kek, yang penting enjoy bos, life is too short. Yah kita semua tau lah manfaat baik dari pergaulan itu, ok.
Rabu, 2008 Desember 10
Cuman mo Curhat
Gak tau yah kenapa.. tapi gw heran ajah mereka emang kgak mikir apah kalo hidup gw tu bukan buat kerja tugas doang, kan masih banyak kesibukan gw yg kalo mau dibilang jauh lebih penting daripada ngerjain tugas2 yg so s*ck itu: tidur misalnya ;D, makan, maen game, nonton, blajar (hmmm), p*carn (zzz), ato setidaknya gosip ma tman2 (hehe gk ad kerjaan laen apah), yah pokonya kesibukan laenlah.
Tugas boleh tapi setidaknya ada selanglah buat semua itu, karena banyak antrian yg bakal kita kerjain berbanding lurus dengan jumlah sumberdaya yang kita pakai(ngikutin materi kuliah). Jadi yah sayang ajah energi kita, kan butuh waktu dan biaya buat nambah energi (terinspirasi dari Mob Wars) dan yang bahayanya lagi tugas2nya itu diselesaikan dengan taraf yg gak maksimal gtu, sayang kan..
Yahhh, okelah gw emang lagi males skrg tapi kalo saja pengajar2 gw (yg kebanyakan ngasi tugas itu) lebih peka dengan kondisi gw, yakin dah jangankan 100 kalo ada nie 110 juga gw bisa *lebay mode on*^-^.
ok, agaknya gw lupa mo nulis apah lagi.. dan satu hal lagi yg pengen gw bilang: sebenarnya gak payah2 amat koq beban kuliah gw sekarang ini, cuman gwnya ajah yg lagi kgak doyan ma hal2 gtuan...
*mode gila off*
salam junkerz ;D
Kamis, 2008 Oktober 09
jadwalKereta
Nenek : Nak, keretanya sampai jam berapa??
Petugas Loket : Jam 1 dari Surabaya, jam 2 Bandung, jam 3 Semarang, jam 4 Yogya. Emangnya nenek mau pergi mana??
Nenek : Enggak, nenek cuma mau melintas saja.
Senin, 2008 Oktober 06
Moona’s or Gery’s Diary..?
cerita ini adalah rekaan belaka, yang dikompilasi dari berbagai sumber
“Moona Putri Ardella?”. Terdengar tawa menylimuti sekeliling kelas. Berpasang-pasang mata melirik ke sang pemilik nama yang duduk di bagian depan kelas. Kekehan mereka meledak menjadi tawa lebar ketika punggung membengkok, leher meliuk ke bawah, membuat rambut longsor menutupi wajah. Ia terlihat seperti sosok hantu perempuan di film-film horor dengan rambut panjang menyelubungi wajah yang pucat pasi. Tapi bedanya, wajah ini begitu hidup dengan kulitnya yang merah. Jika tak ada sahutan membalas, biasanya sang guru akan langsung mengetahui kehadiran sang pemilik nama dari suara tawa yang memenuhi ruang kelas setiap kali namanya disebutkan. Pasti dia hadir, guru itu menyimpulkan dengan mata tetap tertambat ke daftar hadir, karena mereka akan tertawa geli melihat pipinya yang merah seperti bokong yang habis disabet memakai sendok kayu.
Hari ini berjalan seperti biasa, seperti rekaman film yang terus-menerus diulang. Itulah yang dialaminya setiap pagi di sekolah. Itulah Moona. Moona Putri Ardella.
———
Moona merasa gundah. Tapi ia tidak tahu kenapa. Tidak ada yang aneh dalam kegiatannya sebelum berangkat sekolah yang biasa dilakukan di pagi hari ini. Tapi ia bisa merasakannya. Seperti sebuah firasat buruk yang tak bisa ditepiskan dari kepala. Moona berjalan menuju kalender yang tergantung di dinding kelas. Sreeek... disobeknya lembaran kertas yang menunjukkan angka tanggal bulan ini. Tanggal 14 Februari, Hari Valentine. Kesegaran yang dirasakannya setelah mandi pagi secara ajaib seolah menguap dari tubuh mungilnya. Yang ada tinggal kelesuan. Keseganan untuk menjalani hari.
Pikirannya memang lagi-lagi dihantui oleh sesuatu yang semestinya telah dicampakkan. Hari Valentine menjadi penyulutnya. Menonton tayangan iklan atau melihat papan billboard bertemakan Valentine, atau pasangan bergandengan tangan di jalan membuatnya muak. Seandainya ia dapat menemukan jalan ke sekolah dengan mata tertutup. Tapi sayangnya, pada saat ini dirinya berada di satu tempat yang suasananya tidak jauh berbeda dari pusat keramaian mal, SMU Nusa Bangsa. Memasuki kelas, pemandangan satu bangku yang diisi dua penumpang merupakan hal yang lazim. Satu meja akan kehilangan salah satu penghuninya. Termasuk anak di meja sebelah yang sekarang melekatkan pipinya yang sehalus dove ke pipi cowoknya yang penampung minyak. Atau si Leni yang jadi sibuk menciptakan nama baru dari gabungan kedua nama mereka di secarik kertas, dengan pulpen merah, dengan simbol hati menggantikan titik di atas huruf I... Lenita: Leni dan Ita. Ihiiiih... (sebel).
Sebenarnya yang paling dibencinya dari hari Valentine ini adalah asosiasi warnanya. Merah, warna yang dipoles sangat kental sepanjang permukaan simbol universal cinta. Begitu memuakkan. Mengapa bentuk manifestasi kasih sayang harus diliputi warna merah? Bukankah merah menandakan kemarahan? Kebencian? Rasa sakit?
Pernah suatu kali Moona terjatuh dari sepeda dan lututnya terluka. Saat ia reflek memejamkan mata, yang dapat dilihat hanyalah bayangan berwarna merah membara yang menyertai rasa sakit yang bermuara dari lutut. Dan ketika membuka mata, ia begitu ngeri melihat warna darah yang mengalir dari luka itu. Merah.
Cukup jelas. Merah bukanlah warna yang bersahabat. “Moona lagi mikirin apa sih? Kok muka sampe bisa kelap-kelip gitu? Mikirin natal ya? Masih jauh lagi, mbak....”
“Walah... sekarang udah kayak mau meleleh gitu mukanya. Serem korslet deh gue....” Irina dan Yanti ngeloyor pergi, meninggalkan lengkingan suara tawa mereka yang sangat menyebalkan.
Moona menghela napas, lalu mencoba menghibur diri dengan memaksakan diri untuk tertawa. Tapi ia malah berasa aneh. Wajahnya terasa semakin panas. Wajahnya memang seperti itu semenjak kecil. Gampang tersipu. Digodain sedikit merah, ditegur sedikit merah, bahkan kalau ia berbohong kecil saja, wajahnya pasti langsung merah. Kalau hidung Pinokio memanjang, maka pipi seorang Moona akan memerah jika ia berbohong. Satu-satunya yang diandalkan untuk menutupinya adalah rambut. Rambutnya sengaja digerai panjang sampai punggung supaya sewaktu-waktu bisa ia gunakan untuk menutup wajahnya ketika ia menunduk—gerakan kepala serta leher yang otomatis dilakukan apabila wajah terasa panas.
Moona memang telah mengidap kondisi seperti ini sejak dilahirkan. Tapi intensitas warnanya tidak seperti sekarang. Dulu masih terlihat samar, sampai perlahan di pipinya akan terlihat bentuk eliptikal berwarna merah. Mirip seperti pipi baby doll, kata Mamanya. Akhirnya ketika berumur sekitar tujuh tahun ia dibawa ke seorang dokter neurologis.
Moona ingat sekali betapa takutnya ia ketika dibawa ke ruangan putih yang berbau aneh itu. Aroma sterilnya membuat ia mual. Seingatnya, ia didudukkan di sisi tempat tidur lalu si dokter dengan matanya yang tajam menyusuri permukaan kulit wajahnya. Dan rasa hangat itu muncul mengikuti arah pandangnya. Bahkan sampai ke leher pun terasa. Sampai akhirnya dokter berhenti memeriksa lalu mengalihkan perhatiannya, wajah itu terasa adem lagi. Moona merasa begitu lega.
Dokter Adam akhirnya menjelaskan hasil pemeriksaannya (dan kata-katanya entah bagaimana selalu diingat oleh Moona), “Kesipuan terjadi ketika pembuluh darah yang berada di wajah dan leher membesar sehingga mereka akan memompa darah lebih banyak dan akhirnya terjadilah fenomena yang kita sebut tersipu. Secara umum mereka disebabkan oleh dua hal: malu karena sadar akan kesalahan atau karena menjadi pusat perhatian publik, baik dalam konteks positif maupun negatif. Sementara Moona sendiri mengidap kondisi tersipu yang lebih ekstrim, suatu sindrom yang bernama Idiopathic Craniofacial Erythema, yaitu jenis kesipuan yang sangat sensitif, sehingga sedikit provokasi saja, baik dari internal maupun eksternal, akan mengakibatkan wajahnya menjadi merah.”
Si dokter bilang kondisi ini bisa disembuhkan. Caranya adalah dengan mengoperasi pembuluh simpatetik yang menyalurkan darah ke wajah. Tapi tentunya, biaya operasi yang tergolong baru ini akan memakan biaya yang sangat mahal. Mama dan Papanya hanya bisa saling berpandangan. Moona tidak bisa menebak apa yang mereka pikirkan dan ia juga tidak mau membayangkan. Tapi yang pasti mereka akhirnya memutuskan tidak akan melakukan operasi tersebut.
Yang terakhir diingatnya dari akhir sesi pemeriksaan itu adalah Mamanya membalikkan badannya, lalu ia memandangi wajah Moona. Dia tersenyum. Dan rasa hangat di pipi perlahan terasa berkurang. Mama berkata, “Cantik ya anak kita.” Moona tersenyum. Senang karena dibilang cantik.
Sabtu, 2008 April 19
Hari ini, 19 April 2008
06:00, alarm bangunin gw,
06:20, dpt sms dari kaka gw,
06:27, dpt sms dari cwe,
07:02, beli pulsa + sabun cuci.....
08:00, nelpon cwe,
10:00, main tenis meja trus makan siang,
13:00, ke kosan teman, tapi dia di kosan teman yg lain, trus gw ke kosan teman yang lain (buat ngambil tugas....
),16:30, ngjunk di forum ipb...........

20:30, ke t4 cwe ngajak makan malam (bertiga ma teman gw satu lagi
-" title="Peace"> ),.....Rabu, 2008 Maret 26
Payah....
baju gw di jemuran dicuri orang...
Sepatu gw yg dah jelek dicuri orang...
kaos kaki gw yang baru dibeli dicuri orang...
celana gw di jemuran diklaim punya dia (tman yg agak nyebelin emang tu orang)...
untunglah harga diri gw juga kga dirampas..... ^_^

